Kado untuk Guru pada Hari Guru Nasional 2014

Kepengasuhan (“tarbiyah”) merupakan hal paling mendasar dalam mendidik anak. Jika sikap dan perilaku kepengasuhan telah menyatu dalam diri guru sebagai pendidik maka seluruh proses pendidikan akan mengalir dan bermuara dari nilai-nilai kepengasuhan itu.

Pendidikan harus dimulai dari berkehendak untuk membaca (iqro’, ‘alimul ghoib) dan berpikir, kemudian dilalui dengan kepengasuhan yang  penuh kasih (rahman) dan sayang (rahim), untuk menumbuhkan manusia yang siap bekerja keras agar fungsi kekhalifahannya maksimal.

Munif Chatib, penulis buku Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia, menyatakan bahwa seorang pendidik sesungguhnya membawa lima bingkisan yang dibawa oleh setiap anak.

Pertama, bingkisan bintang. Setiap anak adalah bintang juara yang menyinari dunia sekelilingnya. Sebagai pendidik jang biarkan sinarnya redup. Apalagi menghalangi dengan gumpalan-gumpalan mendung ciptaan kita, berpa persepsi negatif kita pada anak, misalnya “anak nakal” atau “anak bandel”. Gantilah persepsi itu dengan “anak hebat” atau “anak juara” dan yakini itu. Maka anak-anak kita pun akan menjadi bintang.

Kedua, adalah samudera. Kemampuan anak seluas samudera. Tidak hanya kemampuan kognitif saja, tetapi juga kemampuan afektif dan psikmotorik. Sebagai pendidik tidak selayaknya mempersempit kemampuan luas samudera anak menjadi “parit kecil”; kognitif saja.

Ketiga, yakni harta karun. Setiap anak memiliki harta karun; kemampuan terpendam, yakni kemampuan majemuk (multiple intelligences) sehingga tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah hambatan dari dalam diri anak-anak karena pemberian stimulus yang tidak tepat. Sebagai pendidik, perlu untuk memberikan stimulus yang tepat agar kecerdasan anak dapat dieksplorasi.

Keempat, yaitu penyelam (discovering ability). Kalau kita percaya bahwa anak adalah samudera dan harta karun ada di dalamnya, maka seorang pendidik harus menjadi seorang penyelam untuk menemukannya. Penyelam dengan kepekaan akan memberi apresiasi bermakna kepada anak, sekecil apapun kebaikan itu.

Anak-anak adalah makhluk terbaik Tuhan (sumber: dokumentasi pribadi)

Anak-anak adalah makhluk terbaik Tuhan (sumber: dokumentasi pribadi)

Dan, kelima, yaitu bakat. Bakat terbangun dari rasa suka. Bisa jadi itu yang akan mengantarkannya mampu berkarya dan mengatasi masalah (problem solving). Namun tidak semua rasa suka adalah bakat. Seorang pendidik perlu mecermati dan mendukung bakat anak-anak.

Jika kelima bingkisan itu dapat terbuka maka kita akan dapatkan anak-anak yang tumbuh menjadi masperpiece; karya agung Tuhan.

Semua anak sesungguhnya “bingkisan” langsung dari Tuhan sebagai makhluk ciptaan terbaik (ahsan at-taqwim) Tuhan. Anak-anak yang tumbuh dan berkembang menuju makhluk terbaik melalui kepengasuhan, kasih dan sayang, sehingga memeliki kewenangan untuk mengelola dunia. Pahala apa bagi mereka yang melakukan kerja keras untuk semua itu?

—-

Gedong Tataan, Pesawaran, 25 November 2014; 5:43

 

Sumber:  http://edukasi.kompasiana.com/2014/11/25/kado-untuk-guru-pada-hari-guru-nasional-2014-705671.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s